Sabtu, 06 Oktober 2012

KONSEP DAN TEORI PERUBAHAN SOSIAL MENURUT EMILE DURKHEIM




Emile Durkeim adalah penganut teori perubahan sosial yang bertahap, ia mengenal dua tahap perkembangan masyarakat yang biasa disebut dengan istilah Evolusionistic unilinear. Menurut Emile Durkheim, dengan perspektif structural fungsional, menyatakan bahwa struktur yang pertama kali berubah adalah struktur penduduk, dan kemudian akan menyeret terjadinya perubahan yang lainnya.
Konsep Emile Durkheim tentang perubahan sosial bertolak pada The Division of Labour atau biasa disebut dengan pembagian kerja. Hal ini menyatakan bahwa proses pembagian kerja berkembang, karena banyak individu dapat berinteraksi satu sama lain. Hubungan aktif tersebut berasal dari “kepadatan dinamis atau moral” masyarakat, yang berinteraksi melalui dua sifat utama. Pertama kepadatan yang bersifat demografis yang bersumber pada adanya konsentrasi penduduk, terutama perkembangan kota. Serta kepadatan yang bersifat teknis, yaitu yang diakibatkan karena meningkatnya alat – alat komunikasi dan transportasi secara cepat. Dengan berkurangnya ruang yang memisahkan segmen sosial, maka kepadatan masyarakat akan meningkat. Karena itu factor utama penyebab pertumbuhan pembagian kerja adalah meningkatnya kepadatan ( moral) masyarakat. Proses pembagian kerja itu memiliki mekanisme tertentu bagimana peningkatan kepadatan moral pada umumnya meningkatkan jumlah penduduk menghasilkan peningkatan diferensiasi sosial atau pertumbuhan pembagian kerja. Menurut Emile Durkheim, karena perjuangan untuk tetap bertahan lebih sulit, apalagi terdapat kubu yang menggejala sebagai organisasi sosial maka konflik akan semakin runcing. Oleh karena itu, meningkatnya kontak diantara individu atau komunitas yang terdiferensiasi akan meningkatkan persaingan diantara mereka.

Jumlah penduduk pencari kerja akan terus meningkat, ada kompetisi dikalangan penduduk dalam berbagai sector pendidikan. Pencitaan lapangan kerja baru akan menimbulkan masalah pula, karena pembagian kerja yang terdiferensiasi akan sulit dikerjakan karena terjadi persaingan yang cukup ketat. Spesialisasi sangat dibutuhkan dalam rangka pembagian kerja yang ada, terjadi urbanization of occupation group ( kelompok urbanisasi berdasarkan kelompok pekerjaan), seakan  kehilangan kolektivitas generalism yang kemudian digantikan oleh kode etik yang terbatas yaitu kesepakatan tentang nilai – nilai dasar. Pada tahap yang lebih lanjut, individu dianggap sebagai the ultimate quantity.
Pada struktur masyarakat yang digambarkan oleh Emile Durkheim, perwakilan orang dalam lembaga legislative biasanya tidak lagi didasarkan oleh keberadaan suku atau ras. Idea – idea yang dominan tidak datang dari siapapun tetapi dari pekerjaan ( occupation) dan adanaya kode etik profesi dan biasanya hanya mengatur hal yang umum saja. 


 Emile Durkheim juga menjelaskan mengenai solidaritas sosial yang ada pada masyarakat. Solidaritas merupakan  suatu keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional.  
Dalam konsep perubahan sosial, sebagaian besar dari karya Emile Durkheim tidak terlalu banyak yang menyoroti pemikiran dari Karl Max, seperti yang telah dilakukan oleh Max Weber. Hal ini dibuktikan dengan konsep – konsep yang dinyatakan oleh Emile Durkheim memang bertolak dari konsep perjuangan politik yang moderat, karena ia mencoba untuk menjauhkan diri dari konflik perjuangan yang lazimnya ada dalam seni politik ( cuisine politique ). Sikap politik yang ditunjukkan oleh Emile Durkheim sangat jelas menolak konservatisme dan sosialisme revolusioner.

Emile Durkheim lebih menfokuskan untuk mengkonsolidasikan diri terhadap segi moralitas, sehingga perhatian utama dari konsep Emile Durkheim adalah mendamaikan dan mencocokan pertumbuhan individualisme – sekuler dengan tuntutan moral yang dihadapi oleh pemeliharaan kesatuan dalam suatu masyarakat modern yang beranekaragam. Durkheim menolak pendekatan individu sebagai reduksi perilaku ekonomi yang menurunkan manusia dalam teori pertukaran pasar dengan sendirinya menempatkan individu itu tidak bermoral. Tetapi ultilitarianisme ini, sekarang telah mati, etika individualisme yang sedang timbul, dengan sendirinya merupakan suatu fenomena bermoral dan bukanlah fenomena yang tidak bermoral.
Kolektifitas kehidupan manusia haris diberi kebebasan mengungkapkan hak – hak pribadinya. Memperluas kesempatan pribadinya agar bisa mengembangkan kemampuan masing – masing sesuai dengan prinsip – prinsip moral yang sekarang ini menjadi dasar dari orde sosial. Pemikiran Emile Durkheim yang bertolak dari keharmonisan itu, membuatnya jauh dari pertimbangan konflik yang sangat disukai oleh para politisi, tetapi lebih dekat pada kelompok eksekutif yang menjalankan praktek kekuasaan.


SUMBER: 

Gumilar, Gumgum. 2001. Teori Perubahan Sosial. Yogyakarta: Unikom.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana.
Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial (Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Samuel, Hanneman. 2010. Emile Durkheim Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern. Depok: Kepik Ungu.
  

1 komentar:

  1. minta info dong, ada gk buku terjemahan dari "bahasan devision of labour" terutama bahas solidaritas sosialnya ???
    kl ada siapa yang mengarangnya trs bisa sy dapatkan dmn?
    terimakasih mohon bantuannya....

    BalasHapus