Jumat, 27 April 2012

KONFLIK REMAJA DENGAN ORANG TUA DALAM KAJIAN SOSIOLOGI KONFLIK


Sekarang ini banyak sekali permasalahan sosial yang terkait dengan kalangan remaja terutama konflik di kalangan remaja. Hal ini sudah banyak sekali dilaporkan melalui berbagai media massa seperti surat kabar, radio, televisi dan internet. Hal ini tidak saja membuat resah kalangan orang tua yang mempunyai anak usia remaja, tapi juga masyarakat dan lembaga pendidikan seperti sekolah.  Remaja sendiri menurut Newman dan Newman (1991), didefinisikan bukan merupakan kanak – kanak tetapi pada masa yang bukan juga pula dewasa. Menurutnya juga, remaja ialah mereka yang sedang mengalami proses pemantapan fisikal, intelektual, rohani, dan emosional. Umur mereka adalah kisaran antara 11 hingga 22 tahun. Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa. Sifat – sifat remaja sebagian sudah tidak menunjukkan sifat – sifat masa kanak – kanaknya, tetapi juga belum menunjukkan sifat – sifat sebagai orang dewasa. Akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat.
Seiring dengan perkembangan fisik yang sangat cepat dapat berakibat pada masa remaja yang tidak dapat menyesuaikan diri secara baik, sehingga sering menimbulkan bahaya – bahaya yang muncul pada masa remaja salah satunya adalah remaja sering melakukan perilaku anti sosial atau yang sering dikenal dengan Juvenile Delinguince yaitu tindakan pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan remaja yang menjurus pelanggaran hukum (baik hukum tertulis maupun tak tertulis).
Adapun sebab – sebab terjadinya antara lain karena:
1.      Personality individu remaja sendiri seperti:
a)      Mempunyai kepribadian yang lemah, karena lingkungan pembentuk psikis yang tidak tepat,
b)      Ciri – ciri kepribadian seperti remaja yang terlalu percaya diri, memberontak, ambivalen terhadap otoritas, mendendam, bermusuhan, curiga, destruktif, impulsif, control batin yang kurang,
c)      Tidak suka mentaati norma,
d)     Perilaku awal ditunjukkan dengan suka membolos, merokok pada usia awal, pelanggaran norma sekitar, dan
e)      Penampilan fisik yang berbeda dengan kelompoknya, serta psikis seperti IQ rendah, kecenderungan psikopat, sukar didik.
2.      Latar belakang keluarga, seperti:
a)      Orang tua broken home,
b)      Situasi yang memaksa,
c)      Orang tua kerja seharian,
d)     Kurang perhatian hanya pemenuhan kebutuhan materi,
e)      Orang tua terlalu melindungi (over protective),
f)       Orang tua yang sangat memanjakan,
g)      Status ekonomi orang tua yang rendah, serta
h)      Duplikat orang tua yang berperilaku jelek.
3.      Latar belakang masyarakat, antara lain:
a)      Pengaruh peer group,
b)      Media massa,
c)      Kekangan sekolah, dan
d)     Lingkungan sosial yang tidak menentu.
Beberapa sebab di atas pula yang dapat menyebabkan terjadinya konflik remaja, baik konflik antarremaja maupun remaja dengan keluarga atau orang tua. Dua hal konflik tersebut sendiri merupakan yang sering terjadi sekarang ini dan menjadi sorotan media massa dan publik. Konflik sendiri menurut Winardi (2004: 1) adalah oposisi atau pertentangan pendapat antara orang – orang, kelompok – kelompok atau organisasi – organisasi. Adapun juga menurut Sedarmayanti (2000: 137) mengemukakan bahwa konflik merupakan perjuangan antara kebutuhan, keinginan, gagasan, kepentingan ataupun pihak saling bertentangan, sebagai akibat dari adanya perbedaan sasaran (goals), nilai (values), pikiran (cognition), perasaan (affect), dan perilaku (behavior). Jadi, konflik dapat diartikan sebagai pertentangan atau percekcokan yang timbul akibat ketidakseimbangan hubungan. 
Pada hakekatnya, konflik terdiri atas 5 bentuk, yaitu:
1)      Konflik dalam diri individu
Konflik ini merupakan konflik internal yang terjadi pada diri seseorang (intrapersonal conflict). Konflik ini akan terjadi ketika individu harus memilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, dan bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan. Menurut Winardi (2004: 169), terdapat 3 tipe konflik pada tingkat individu, yaitu: Konflik Mendekat – mendekat, Konflik menghindar (menjauh) – menjauh, Konflik Mendekat – Menghindar.   
2)      Konflik antar individu
Konflik antar individu (interpersonal conflict) bersifat substantif, emosional atau kedua – duanya. Konflik ini terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan di mana hasil bersama sangat menentukan.
3)      Konflik antar anggota dalam satu kelompok
Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif. Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu.
4)      Konflik antar kelompok
Konflik intergroup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan, dan meningkatnya tuntutan akan keahlian.
5)      Konflik antar bagian dalam organisasi
Tentu saja yang mengalami konflik adalah orang, tetapi dalam hal ini orang tersebut “mewakili” unit kerja tertentu. Menurut Mulyasa (2004: 244) konflik ini terdiri atas: konflik vertikal, konflik horizontal, konflik lini – staf, konflik peran.
6)      Konflik antarorganisasi
Konflik antarorganisasi terjadi karena mereka memiliki saling ketergantungan pada tindakan suatu organisasi yang menyebabkan dampak negatif terhadap organisasi lain. Misalnya konflik yang terjadi antara sekolah dengan salah satu organisasi masyarakat.  
Para ahli psikologi berpendapat bahwa konflik terjadi dalam diri remaja jika suatu keinginan yang ada dalam diri remaja itu tidak sejalan dengan nilai – nilai yang dipegang oleh remaja tersebut. Contohnya saja, seorang remaja perempuan yang dilarang bergaul bebas dengan laki – laki oleh kedua orang tuanya akan merasa serba salah ketika ada teman yang ingin mengajaknya keluar. Konflik yang terjadi di situ sendiri adalah konflik remaja dengan orang tuanya. Konflik antara remaja dengan kedua orang tuanya berbentuk konflik pribadi, sosial, kegiatan di rumah atau di sekolah, disiplin, dan sebagainnya. Dalam membahas konflik remaja dengan orang tua, sering dikaitkan dengan istilah generatian gap. Istilah ini sendiri menitikberatkan kepada konflik remaja dengan orang tuanya dikarenakan orang tuanya sebagai generasi yang lebih tua seakan – akan tidak dapat menerima kenyataan bahwa generasi muda merupakan golongan yang sedang akan memasuki tahap dewasa. Akibat penolakan hakikat yang sebenarnya itulah maka timbullah generation gap atau konflik antara remaja dengan orang tuanya.
Konflik yang sering terjadi sekarang ini antara remaja dengan orang tua kebanyakan di latar belakangi oleh permasalahan percintaan remaja yang tidak disetujui atau dilarang oleh orang tua atau keluarga. Ada contoh mengenai kasus konflik remaja dengan orang tua dengan penyebab masalah percintaan yang diambil dari Kompas.com (12 / 10), berkisah tentang gadis remaja bernama Na (nama disamarkan) ingin tetap patuh kepada orangtua. Tetapi, ia juga sudah sayang dan cocok dengan Bi, pacar keduanya, yang sangat ditentang orangtua. Ibu, ayah, dan kakak adiknya lebih setuju Na menikah dengan To, pacar pertama yang sudah diputuskan enam bulan sebelum bertemu Bi. Berikut kisah dari gadis remaja yang mengalami konflik tersebut:  
”Saya menjalin hubungan dengan To hampir dua tahun. Saya memutuskan berpisah karena dia telah empat kali berkhianat dengan menduakan saya. Pertama masih saya maafkan dengan harapan dia bisa berubah. Hingga empat kali, saya benar-benar tak sanggup lagi.
Saya sangat menyesal pernah melakukan hubungan terlarang dengan dia. Mungkin ini yang membuat saya berat melepas hingga dia besar kepala dan tega menyakiti saya berkali-kali. Akhirnya saya mengenal Bi. Orangnya baik dan jujur menceritakan latar belakang keluarganya. Kami pun berpacaran. Dari awal saya berusaha jujur juga. Saya katakan saya sudah tidak perawan lagi dan dia bisa menerima keadaan.

Dua bulan kemudian To muncul lagi. Dia ingin kembali kepada saya. Saya bingung, tetapi tak tega kalau harus menyakiti Bi. To terus meneror lewat SMS, telepon, dan datang ke rumah. Dia bahkan mohon kepada Bi lewat e-mail.
Saya jadi habis kesabaran dan benci kepada dia. Saya jutekin kalau datang. Celakanya dia berhasil menarik simpati orangtua dan saudara saya. Mereka menceramahi dan memarahi saya. Saya dibilang kejam dan tidak sopan. Ibu tidak setuju saya berpacaran dengan Bi dan berharap kembali kepada To.
Sekarang saya dan Bi sudah bekerja, Bi giat bekerja agar nantinya bisa menikahi saya. Yang memusingkan saya, saya tidak ingin mengecewakan orangtua, tetapi juga tidak mau kehilangan Bi. Saya stres banget menghadapi hal ini.”
Konflik yang terjadi di atas bisa merupakan jenis konflik mendekat – menjauh (menghindar), yaitu suatu konflik dimana ketika seseorang itu mempunyai keinginan terhadap sesuatu tetapi di waktu yang sama, individu tersebut ingin menghindar atau menjauh dari keinginan itu jika memperolehnya. Dalam konflik di atas, Na bermaksud melanjutkan hubungan serius dengan Bi. Ia merasa aman dan cocok dengan Bi (mendekat), tetapi dia juga takut berdosa dan mengecewakan bila tak patuh kepada orangtua (menjauh).
Konflik semacam ini lebih sulit menyelesaikannya dan menghabiskan banyak pikiran. Wajar Na tak bisa fokus dan ingin pergi ke psikiater karena sudah merasa tak bisa menghadapinya. Sebab itu, sebaiknya Na tidak terburu – buru mengambil keputusan. Banyak hal perlu dipertimbangkan. Jadi, usahakan memperbaiki hubungan dan berkomunikasi yang baik dengan orangtua. Bantu keperluan mereka sehari – hari dengan ikhlas. Jika perlu, ajak Bi mendapat kesempatan menolong sebanyak mungkin. Tidak harus berupa materi, bantuan tenaga juga bisa. Upayakan Bi lebih banyak berjumpa dengan orangtua untuk mendapat kesempatan saling mengenal dan menunjukkan kebaikan dirinya. Tunjukkan Bi lebih setia dan bertanggung jawab. Dengan demikian, secara bertahap orangtua dapat mengubah pandangan dan sikap kepada Bi.
Konflik di atas sendiri dapat dianalisis dengan teori negosiasi prinsip dan teori kebutuhan manusia. Dalam teori negosiasi prinsip, konflik disebabkan oleh posisi – posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak – pihak yang mengalami konflik. Dalam konflik yang dialami Na juga terkait dengan yang diterangkan dalam teori negosiasi prinsip yaitu perbedaan pandangan antara Na dengan kedua orang tua dan keluarganya. Dalam analisisa melalui teori ini, sasaran yang ingin dicapai adalah membantu pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu. Misal dalam kasus di atas adalah keluarga Na berusaha untuk memisahkan perasaan pribadi terhadap To dengan masalah Na dan Bi. Sasaran yang ingin dicapai dalam teori ini selanjutnya adalah melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Misalnya dalam kasus di atas, keluarga Na berbicara dengan Na secara baik – baik dan melakukan kesepakatan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
Teori selanjutnya adalah teori kebutuhan manusia. Konsep dalam teori ini adalah konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental, sosial) yang tak terpenuhi atau dihalangi. Dalam kasusnya Na, kebutuhan dasar manusia yang terhalangi berupa mental dan sosial yaitu masalah cinta dan kepedulian keluarga terhadapnya. Dalam analisa teori ini sendiri sasaran yang ingin dicapai adalah membantu pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi dan menghasilkan pilihan – pilihan untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Misal dalam kasus Na, sebenarnya orang tuanya sudah melakukan tindakan agar sasaran seperti yang ingin dicapai dalam teori tersebut dapat tercapai, namun yang dilakukannya terlalu bertentangan dengan Na. Sehingga akan lebih baik jika orang tua Na dan Na mengupayakan bersama secara baik – baik kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi tersebut yaitu mental dan sosial agar tidak terdapat pilihan yang menyulitkan salah satu pihak seperti dalam kasus di atas. Sasaran yang selanjutnya dalam teori ini adalah agar pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Misal jika keluarga Na dan Na bisa berunding untuk membicarakan secara baik – baik pemenuhan kebutuhan dasar mereka, maka dapat dicapai kesepakatan untuk pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.   
Upaya untuk mengatasi konflik remaja dalam kasus Na di atas dapat diatasi melalui dua langkah yaitu:
1)      Dari Pihak Orang Tua
Orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam mengatasi konflik dengan remaja. Orang tua perlu memahami dan mengetahui psikologi remaja yang sedang proses menuju kedewasaan. Pada umur 12 hingga 21 tahun, remaja akan menghadapi kehidupan yang kritis pada kisaran umur ini. Pada masa ini juga konflik terjadi untuk menentukan arah hidup mereka. Sebenarnya pada kisaran umur ini remaja memerlukan perhatian dan bimbingan serta kasih sayang dari orang dewasa. Perasaan mereka sangat sensitif sehingga perkara – perkara yang kecil dan remeh pun bisa mengucilkan atau mengganggu hati mereka.
Hurlock (1968) berpendapat bahwa orang tua yang menggunakan disiplin yang terlalu ketat lebih banyak mewujudkan krisis personal antara remaja dengan kedua orang tuanya. Orang tua yang tidak memahami keperluan dan keinginan remaja akan menyebabkan remaja menghindar dan menjauhkan diri dari keluarga.
Orang tua seharusnya lebih banyak meluangkan waktu untuk berbincang bersama anak – anak mereka dan jangan sekali – kalai meremehkan kemampuan dan menolak pendapat remaja. Ini karena remaja senantiasa juga ingin dihargai dan dihormati seperti halnya orang tua yang ingin disanjung. Orang tua harus berusaha merapatkan jurang pergaulan dan hubungan antara satu sama lain.
Pendidikan agama yang bagus juga amat penting diberikan guna membentuk akhlak dan kepribadian diri yang baik kepada remaja. Oleh karena itu, orang tua juga harus memberikan anak – anaknya pendidikan agama yang sebaik – baiknya karena melalui pendidikan agama yang baik akan menghasilkan generasi muda yang lebih baik.
Upaya dari pihak orang tua ini juga dapat untuk mengatasi konflik Na diatas. Di mana jika orang tua Na mau meluangkan waktu untuk berbicara secara baik – baik dan tidak meremehkan pendapat dari Na pastilah konflik teratasi. Selain itu jika orang tua Na memberikan pendidikan agama yang baik, pastilah Na tidak melakukan tindakan terlarang dengan To yang membuat dia tidak bisa berunding baik – baik dengan orang tuanya. Karena jika orang tuanya tahu pasti mereka akan marah pada Na.  
2)      Dari Pihak Remaja
Tidak hanya orang tua, remaja sendiri juga memainkan peranan yang penting dalam menyelesaikan konflik dengan orang tua mereka. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah remaja harus melakukan sesuatu untuk menghindari terjadinya konflik dengan orang tua mereka. Remaja sendiri perlu sadar akan kesulitan orang tua mereka dalam mencari nafkah untuk membesarkan mereka. Setiap masalah yang timbul bisa dibicarakan bersama karena masalah yang kecil pun bisa menjadi besar jika tidak diselesaikan secara rasional. Selain itu, remaja juga harus berhati – hati dalam membuat sembarang keputusan saat berselisih paham atau pendapat dengan orang tua mereka. Jika perlu, minta nasihat dari orang yang bisa dipercaya.
 Di samping itu, remaja harus memahami cara dan bentuk didikan yang dilakukan orang tua mereka. Bagi remaja yang menerima didikan secara demokrasi, kebebasan yang dimiliki haruslah digunakan untuk mengembangkan potensi yang ada. Bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang permissif (mudah memberi ijin) pula, haruslah sadar bahwa mereka telah diberikan kebebasan tanpa perlindungan atau kawalan. Para remaja ini perlu berhati – hati apabila mengambil suatu keputusan dan tindakan. Mereka harus mendapat nasihat dari guru sekolah atau rekan – rekan dekat yang berkepribadian positif.
Bagi remaja yang dibesarkan dalam keluarga bercorak autokratif (otoriter) pula, harus mencari jalan supaya orang tua mereka dapat diubah agar dapat bersama – sama berbicara hal – hal yang berkaitan dengan remaja. Walaupun untuk mengganti cara didikan sangat sulit dilakukan, remaja harus memperlihatkan sikap menghormati orang tua. Kita sadar bahwa tidak mudah untuk mematuhi berbagai peraturan yang diberikan, tapi sekiranya remaja terus menghormati orang tua, lama – kelamaan orang tua akan terpengaruh dan mau mengubah sikap mereka.
Orang tua mempunyai nilai mereka sendiri. Jalan penyelesaian yang paling baik adalah menyakinkan remaja bahwa mereka mempunyai nilai mereka sendiri yang berbeda dengan keinginan yang dikehendaki oleh orang tua mereka. Mungkin dalam cara menafsirkan nilai itu berbeda, tetapi remaja harus memastikan bahwa orang tua mereka memahami tujuan dan keinginan mereka sebenarnya.
Apa yang sering terjadi adalah remaja ingin “melarikan diri atau kabur” dari orang tua mereka tapi tindakan ini terhalang karena masih terikat dan bergantung pada orang tua mereka, terutama dari segi materi atau keuangan. Dengan kata lain, mereka ingin membina hidup mereka sendiri tetapi pada saat yang bersamaan terpaksa melanjutkan ikatan dengan orang tua dan keluarga.
Menurut Siegel (1982), bukan saja remaja, orang tua mereka juga mempunyai perasaan yang bimbang. Mereka menginginkan anak mereka berdikari tetapi pada saat yang bersamaan tidak mau melepaskan anak mereka jauh dari pandangannya. Lantaran sebab itu, terwujudlah ada yang disebut sebagai keinginan berganda dalam tingkah laku. Maksudnya adalah orang tua berkata begini tetapi bertingkah begitu.
Walau bagaimanapun, terdapat kajian yang menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 – 25 % saja keluarga yang mengalami konflik seperti ini dan timbul sebelum seorang anak itu menjadi remaja. (Collins, 1990). Terdapat juga yang hanya mengalami konflik ringan – ringan saja yang tidak dapat dielakkan (Larson dan Lampman-Petraitis, 1989). Offer dan Offer (1974) juga mendapati bahwa kebanyakan remaja senang dengan hidup mereka, pintar menyesuaikan diri, dan mempunyai image diri yang realistis.  
Melalui upaya ini juga, kasus Na dapat di atasi jika Na mampu mengubah sikap orang tua walaupun cukup lama prosesnya. Dengan memahami cara didikan orang tua Na, mungkin bisa membantu Na untuk menyelesaikan konfliknya tersebut. Selain itu berusaha agar lama – kelamaan orang tua mau paham akan pendapatnya dan mau berbicara baik – baik dengannya.  
Kesimpulannya, konflik yang terjadi pada remaja sekarang ini merupakan konflik dengan orang tua. Namun juga banyak terjadi konflik antar remaja. Rata – rata dari penyebab konflik di kalangan remaja adalah karena masalah percintaan atau keinginan dari remaja yang tidak terpenuhi. Teori yang terkait dan dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan konflik di kalangan remaja pun sebenarnya banyak namun dalam kasus Na menggunakan teori negosiasi prinsip dan teori kebutuhan manusia. Banyak konflik orang tua dengan anaknya karena perbedaan pendapat atau prinsip. Selain itu ada juga konflik karena kebutuhan remaja tidak terpenuhi oleh orang tua atau kurangnya pengertian dari orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar remaja.   

Sumber: 
 
Abdulsyani. 2007. Sosiologi: Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta:  PT Bumi Aksara.
Izzaty, Rita Eka., dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Jacobvitz, D.B., dan Bush, N.F.. 1996. Reconstructions of Family Relationships: Parent – Child Alliences, Personal Distress, dan Self Esteem. Developmental Psychology.
“Mengatasi Konflik Orangtua Suka Memaksa” dari Kompas.com. Senin, 12 Oktober 2009 di unduh Sabtu, 12 November 2011.
Santosa, Imam Budi. 2001. Kisah Polah Tingkah Potret Gaya Hidup Transformatif. Yogyakarta: LkiS
Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:  PT RajaGrafindo Persada.
Winardi. 2004. Manajemen Konflik: Konflik Perubahan dan Pengembangan. CV Mandar Maju: bandung.
Wirawan, Sarlito. 1997. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar