Jumat, 27 April 2012

FENOMENA TKW DAN TRAFFICKING DALAM PERSPEKTIF FENOMENOLOGI


Hobbes ─seorang teoritisi individualis yang percaya mengenai hakekat manusia universal yang tidak terpengaruh oleh kekuatan sosial─ pandangan modern yang standar berpikiran bahwa masyarakat adalah  sebuah fenomena yang diandaikan oleh kegiatan-kegiatan dan ciri-ciri manusia individual yang berproses secara terus menerus, sehingga tidak bisa direduksikan ke dalam tingkah laku kodrati manusia. Sebab, para individu menemukan kepercayaan-kepercayaan, emosi-emosi dan perilaku individu yang semuanya itu ‘menguasai’ individu (Compbell, 1994).
Durkheim dalam beberapa hal setuju dengan pernyataan Hobbes, bahwa  masyarakat berkaitan dengan kontrol atas para individu yang dilakukannya melalui proses alamiah. Hal ini mengindikasikan kesadaran kolektif muncul mendahului tingkah laku individu. Bukan manusia (individu) yang membentuk masyarakat, melainkan masyarakat yang membentuk manusia. Pandangan holistik ini melihat masyarakat sebagai seperangkat cara tingkah laku yang saling berkait yang telah ada sebelumnya, yang menyatu ke dalam psikologi dan tingkah laku manusia individual, dan mengontrol semua yang khas bersifat manusiawi dari mereka. Bahasa, moralitas, agama, dan kegiatan-kegiatan ekonomi mereka semuanya adalah produk sosial (Compbell, 1994).
Oleh karena itu, untuk memahami perilaku individu memerlukan pemahaman yang baik tentang masyarakat dan tempat mereka dalam masyarakat tersebut. Studi Durkheim tentang suicide menunjukkan bagaimana tindakan-tindakan (bunuh diri) yang tampaknya sangat (dan paling) personal sebenarnya adalah ungkapan dari faktor-faktor sosial dan bukannya faktor-faktor individual. Bunuh diri, kata Durkheim, tidak bisa dijelaskan dengan motif-motif individual, melainkan ditentukan oleh tipe dan tahap masyarakat yang bersangkutan, khususnya oleh macam solidaritas yang mengikat orang-orang bersama (Compbell, 1994).
Fenomena TKW dalam perspektif makro dipandang sebagai akibat bekerjanya tekanan struktur sosial ekonomi, institusi sosial, dan kebijakan negara yang mengabaikan masyarakat miskin. Fenomena TKW adalah produk sistem sosial. Para TKW sebagai warga masyarakat tak terhindarkan harus mengikuti ‘skenario’ format sistem sosial dan kebijakan pembangunan. Menjadi TKW seolah sebagai suatu model adaptasi bagi perempuan pedesaan untuk menyambung dan mempertahankan kehidupan diri dan keluarganya. Persoalannya, model adaptasi dengan menjadi TKW ini justru kontraproduktif ketika mereka menjadi korban kekerasan (trafficking) karena ketidakmampuannya mengikuti prosedur resmi sebagaimana dikatakan Merton (1968), illegitimate mean.

Berbeda dengan model analisis makro, model analisis mikro justru menempatkan individu, para perempuan miskin di desa, sebagai unit analisisnya. Penjelasan paradigma definisi sosial (social definition) ini menganggap individu-individu anggota masyarakat bukannya ‘obyek’, benda mati dan karenanya siap ‘dibentuk’ dan selalu dijadikan sasaran kekuatan eksternal (struktur sosial dan budaya), melainkan individu-individu yang aktif, kreatif dan inovatif berkemampuan merespon stimulasi eksternal yang dinilai merugikan kepentingannya. Individu secara subyektif mempunyai kemampuan dan kapasitas yang memadai sehingga pada gilirannya mampu mereproduksi dan merekonstruksi sesuatu yang dinilai ‘given’ oleh masyarakat. Motivasi dan dorongan para perempuan pedesaan yang dalam banyak hal nekat menjadi TKW secara ilegal adalah merupakan respons langsung yang aktif dan kreatif atas kondisi eksternal yang menghimpit kehidupannya. Teori-teori yang biasa dipergunakan dalam model penjelasan mikro ini misalnya teori fenomenologi, teori interaksionisme simbolik, teori wacana, teori pertukaran perilaku, dan sebagainya.
Schutz, sebagai tokoh utama Perspektif Teori Fenomenologi, membangun seluruh pendekatan analisisnya terhadap masyarakat berdasarkan analisis mengenai pengalaman sosial individu (Compbell, 1994: 233). Baginya, analisis makro tentang masyarakat adalah sebuah fiksi dari pikiran pengamat ilmiah yang mendistorsikan kenyataan kehidupan sosial yang dapat ditemukan hanya dalam pengalaman-pengalaman subyek. Metode Husserl dibangun berdasar pada pengandaian bahwa pengalaman tidak hanya ‘diberikan’ kepada individu melainkan bersifat ‘intensional’ dalam arti bahwa pengalaman itu melibatkan orang yang mengarahkan perhatiannya pada ‘obyek-obyek’ yang membuat pengalamannya seperti itu: apersepsi. Dengan demikian, kita bisa membersihkan diri dari prasangka-prasangka kita tentang dunia dan mereduksi pengalaman kita sampai unsur-unsur dasariah pengalaman-pengalaman dan struktur yang mendasari pengalaman-pengalaman itu.
Bagi Schutz, manusia adalah mahluk sosial. Kesadaran dalam kehidupan sosial sehari-hari adalah sebuah kesadaran sosial. Kesadaran sosial berproses melalui 2 (dua) cara, yakni dengan menerima begitu saja apa adanya realitas sosial di sekitarnya, dan dengan menggunakan tipikasi-tipikasi yang diproduksi dan dikomunikasikan. Sebuah masyarakat dipandangnya sebagai sebuah komunitas linguistik. Masyarakat berada melalui simbol-simbol timbal balik sehingga kesadaran sehari-hari merupakan kesadaran sosial. Dengan demikian, dunia kehidupan individu merupakan suatu dunia ‘inter-subyektif’ dan hal ini dalam prosesnya menjadi ‘dunia kita’ dan menjadi ‘milik bersama’. Sejak itu, muncul istilah tesis eksistensi alter-ego, pemahaman aku yang lain dan dengan begitu memungkinkan orang saling memahami sesama warga komunitas yang disebut Schutz consociate (Compbell, 1994: 243).
Fenomena TKW dan trafficking dapat dipahami sebagai suatu realitas sosial yang fenomenal. Perspektif teori fenomenologi yang bertolak dari ‘paradigma definisi sosial’ yang memusatkan perhatian pada realitas sosial pada tingkatan mikro-subyektif dan sebagian tingkatan mikro-obyektif yang bergantung pada proses-proses mental dari tindakan sosial (Ritzer, 1975). Teori fenomenologi memandang interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman terhadap tindakan masing-masing individu maupun kelompok. Perspektif ini memfokuskan perhatiannya terhadap pentingnya memahami realitas sosial dalam konteksnya, memahami bagaimana realitas sosial itu diciptakan, dan bagaimana tindakan sosial dilakukan dalam konteks pengertian mereka sendiri.
Teori fenomenologi melihat realitas sosial sebagai suatu realitas subyektif. Dalam konteks ini, realitas sosial secara obyektif diakui memang ada tetapi maknanya berasal dari dan oleh hubungan subyektif (individu) dengan dunia obyektif. Realitas terbentuk secara sosial, sehingga pemahaman tentang realitas sosial itu sendiri dapat dilakukan dengan jalan menganalisis proses bagaimana realitas sosial itu terjadi. Di sini diakui adanya realitas obyektif dengan membatasi realitas sebagai realitas yang berkaitan dengan fenomena yang kita anggap berada di luar kemauan kita (Berger & Luckman, 1969).
Karena itu, realitas sosial ini harus dipahami secara substansial, sehingga kita harus berupaya mengerti atau memahami ‘makna’ (meaning) yang mendasari dan atau melingkupi suatu realitas sosial dan historis. Fenomenologi mencari penjelasan bagaimana individu yang unik dan spesifik mengonstruksi secara kolektif suatu ‘dunia’ kehidupan sosial nyata di sekitarnya. Analisis ini melihat kehidupan sosial dan realitas sosial antara perempuan dan pria dalam banyak hal, termasuk misalnya dalam pembagian kerja, tercipta melalui proses pemberian makna terhadap obyek dan pengalaman yang spesifik (Collins, 1990).
Berhal demikian, maka konsep-konsep sosiologis seperti nilai dan norma sosial, relasi sosial dan institusi sosial, dilihat sebagai hasil dari suatu proses yang disengaja. Kekuasaan pria dalam suatu keluarga dan masyarakat yang secara struktural sangat kokoh dengan dukungan budaya patriarki karenanya memang dibangun dan diproduksi secara sadar oleh kaum pria. Perspektif fenomenologi mengakui potensi kreatif dan otonom dari setiap perempuan sebagai individu dan mengakui kapasitasnya untuk ‘menentang’ berbagai kondisi sosial, kebiasaan, sosialisasi, dan ‘tekanan-tekanan’ kekuatan pria yang patriarki. Karena itu, menurut pendekatan ini, realitas kasus-kasus trafficking TKW dipahami sedalam-dalamnya dengan cara menangkap realitas sosial menurut realitas itu sendiri. Berdasar pendekatan fenomenologi, maka pilihan tindak perempuan untuk bekerja sebagai TKW dilihat sebagai tindakan yang dilakukan sebagai sarana (yang baik atau setidaknya memuaskan) untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Realitas sosial dalam hal ini dianalisis dalam dua rangkaian realitas, yaitu realitas tentang ‘tingkah laku’ dan realitas tentang ‘pikiran’. Karena itu, realitas trafficking TKW dilihat sebagai hasil dari interaksi dua elemen, yaitu: tingkah laku manusia (TKW) dan makna yang membarengi tingkah laku tersebut (Berger & Luckman, 1969). Tingkah laku manusia dianggap tidak sepenuhnya dibentuk dan dikontruksikan, tetapi memiliki keberadaan yang bebas. Dengan demikian, realitas sosial itu dilihat terbentuk karena pemikiran, penilaian, dan keputusan para perempuan TKW, sehingga realitas sosial meliputi tindakan manusia sebagai elemen-elemennya. Realitas sosial terdiri dari suatu lapisan realitas tentang tindakan individu manusia yang terdiri dari ‘tingkah laku’ dan ‘sesuatu yang memberi makna dari tingkah laku’ sehingga mengubahnya dalam suatu tindakan. Pilihan penggunaan pendekatan fenomenologi memungkinkan untuk melakukan analisis yang lebih kritis terhadap perilaku sosial yang dilakukan perempuan sebagai pihak yang tersubordinasi.
Pemahaman tentang fenomena trafficking dalam suatu komunitas dapat mengungkap kehidupan perempuan dan relasi gender yang berlangsung dalam komunikasi tersebut. Untuk memahami bagaimana fenomena trafficking sebenarnya perlu melakukan pembahasan tentang ‘makna’ (meaning), dan mendalami berlangsungnya perjuangan terhadap sumber daya yang terbatas sebagai perjuangan terhadap ‘makna’.
Pemahaman terhadap ’ideologi’ perempuan bekerja menjadi TKW adalah penting karena ideologi bernuansa gender merupakan sekumpulan nilai-nilai sosial yang menjadi pedoman perilaku yang dianggap paling mungkin bagi pria dan perempuan, khususnya perempuan dalam mengubah nasib diri dan keluarganya. Ideologi ini dalam prosesnya menentukan bagaimana eksistensi TKW didefinisikan, dipersepsikan, dinilai, dan diharapkan untuk bertingkah laku. Dalam prosesnya, ideologi ini (akan) diyakini oleh seluruh anggota komunitas, dianggap sebagai sesuatu yang natural, merasuk dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam kesadaran manusia. Menjadi TKW adalah suatu yang terlazim, melembaga, dan dalam beberapa hal cenderung menjadi suatu keniscayaan terutama pada masyarakat yang kehidupannya dihimpit kemiskinan.
Meski demikian, ideologi TKW bernuansa gender tersebut kini tengah berproses menjadi arus besar dan dalam beberapa hal telah menjadi pedoman dan/atau orientasi perempuan dalam keluarga miskin tersebut sebenarnya merupakan ‘produk’ dari konstruksi sosial juga. Menjadi TKW dikonstruksi dari hari ke hari oleh anggota komunitas melalui interaksi sosial yang melibatkan perempuan dan pria sehingga sifat dan konteksnya bersifat cukup dinamis, mengalami redefinisi, rekonstruksi dan rekonseptualisasi sesuai dengan ‘kebutuhan’ komunitas. Semakin suatu komunitas terdera dalam kemiskinan, semakin dibutuhkan perempuan-perempuan untuk siap menjadi TKW.
Perempuan menjadi TKW tak lepas dari persoalan gender. Hal ini berkaitan dengan persoalan mendasar yang melingkupi kehidupan perempuan dalam hubungannya dengan pria melalui pemahaman tentang relasi sosial yang melibatkan antara keduanya (gender relation). Relasi gender setidaknya mencakup lima proses yang saling berinteraksi: (1) konstruksi atas pembagian kerja yang berkaitan dengan gender, (2) konstruksi atas simbol dan citra (image) yang menjelaskan, mengekspresikan, menekankan, dan memaksa atau kadang-kadang bertentangan dengan pembagian kerja tersebut, (3) interaksi antara perempuan dan pria, antara perempuan dan perempuan, dan antara pria dan pria, (4) proses yang membantu untuk menghasilkan komponen gender dari identitas individu yang meliputi pula kesadaran gender,  (5) proses fundamental secara terus-menerus terhadap pembentukan dan pengkonseptualisasian struktur sosial (Acker, 1990: 145-147). Konstruksi sosial atas kelima proses tersebut tidaklah statis, melainkan bersifat dinamis dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. 

Sumber: 
Soetomo. 2008. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar